BEGINILAH CARAMU
MENCINTAIKU
“Memang
penyesalan berujung di setiap kisah kehidupan, begitulah yang aku rasakan
sekarang. Mungkin bila dikatakan manusia bodoh, maka pantaslah aku dijuluki
demikian. Betapa tidak, aku telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu
mencintaiku dengan cara yang luar biasa. Tapi justru aku menolak caranya
tersebut. Sebab aku yang masih memiliki ego yang besar, hingga menjadikanku
meratapi segalanya yang telah berlalu. Rifan, sungguh menyesalnya aku,
mengabaikanmu yang mencintaiku dengan caramu yang sangat luar biasa. Namun kini
semua tiada guna lagi.
Masih ku
ingat hari pertama kita bertemu, kala itu kau datang pada acara pernikahan
kakakku. Dengan pakaian sederhana dibalut jaket hitam bertuliskan namamu di
belakangnya, kau tampak apa adanya. Meskipun waktu itu aku terkejut dengan
postur tubuhmu yang ‘big size’, tapi aku tahu sekarang. Tersimpan hal luar
biasa di dalam dirimu. Jika saja waktu dapat aku putar kembali, ingin ku
kembali di masa kita masih bersama, menjalin kasih dengan caramu yang indah.
Terlebih setelah kawanmu, Beni, menceritakan semua yang telah kau lakukan
selepas kita tak lagi menjalin hubungan, rasanya aku benar-benar berdosa kepadamu,
Fan. Wahai mantan kekasihku, adakah waktu untuk kita bersama lagi seperti
dahulu?
“Assalamu’alaikum,
ini benar dengan Nadira alumnus SMA 1 SULTENG? yang jurusan IPA?”, bunyi pesan
obrolan facebook pertamamu padaku,
“Wa’alaikumsalam, iya benar. Ini siapa yah? Kok bisa kenal dengan Dira? Emang kamu alumnus SMA Kencana juga?”, balasku yang juga melalui obrolan facebook,
“Iya, aku alumnus SMA 1 SULTENG. Lah, kan tertera namaku disana.”, jawabmu sekenanya,
“oh iya. Oh namamu Rifan toh? Emang dulu jurusan apa dan angkatan tahun berapa?” tanyaku lagi padamu yang masih penasaran,
“Iya. Aku jurusan IPS, angkatan tahun 2010/2011.”, balasmu singkat,
“oh… salam kenal yah…” ketikku pada obrolan facebook kala itu,
“iya.” Jawabmu menyudahi obrolan kita di masa silam,
“Wa’alaikumsalam, iya benar. Ini siapa yah? Kok bisa kenal dengan Dira? Emang kamu alumnus SMA Kencana juga?”, balasku yang juga melalui obrolan facebook,
“Iya, aku alumnus SMA 1 SULTENG. Lah, kan tertera namaku disana.”, jawabmu sekenanya,
“oh iya. Oh namamu Rifan toh? Emang dulu jurusan apa dan angkatan tahun berapa?” tanyaku lagi padamu yang masih penasaran,
“Iya. Aku jurusan IPS, angkatan tahun 2010/2011.”, balasmu singkat,
“oh… salam kenal yah…” ketikku pada obrolan facebook kala itu,
“iya.” Jawabmu menyudahi obrolan kita di masa silam,
Aku tak
tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Begitu
bersalahnya aku meninggalkan orang sepertimu, Fan! Aku meninggalkanmu demi
seseorang yang hanya mengumbar janji, membawaku ke awang-awang lalu tanpa aku
tahu kapan aku kan dihempaskan olehnya. Tetapi baru aku ketahui bila masa yang
ku takuti ialah bulan lalu, setelah kami memadu kasih selama 5 bulan. Dan ia
tidak jua melakukan apa yang ia katakan, remuk hatiku Fan! Rasanya hati ini
hancur berkeping-keping!! Inginku menghajar tepat di wajahnya.
Namun
siapalah aku? Hanya seorang wanita yang lemah sebatas marah serta menangis saja
yang mampu kuperbuat. Selebihnya tak sanggup ‘tuk ku lakukan. Wahai yang
mencintaiku, masihku ingat ketika kau datang kali ketiga dengan tampangmu yang
acak-acakan, wajahmu penuh peluh bercampur debu jalanan. Semestinya ku pikirkan
semua yang kau lakukan untukku dulu. Lagi, hanya penyesalan kata yang layak
keluar dari mulutku. Aku dengar dari sahabatmu Septian, dalam do’amu, kau tak
lupa sebut namaku, dalam sujudmu, kau hantarkan harapan dalam garis hidupmu
tentang aku yang kau cinta.
Duhai
pemberi semangat ketika aku lelah bertarung dengan skripsiku, aku harap kau
dapat mendengarkan. Di balik ragaku yang lemah ini, telah kau taburkan rasa
semangat di dalamnya. Wahai pemberi ilmu disaat aku bingung, kau berikan aku
pembaharuan tentang segalanya. Aku tahu, kau merasa kecewa denganku, berharap
aku hilang dalam hidupmu namun ku berharap, dengarlah, dengarkanlah lirihnya
jeritanku dalam kebisuan hati. Bahwa aku rela kau caci-maki karena memang aku
pantas mendapatkannya.
“Aku sering
ditanyai oleh kakakku, ‘kau punya pacar tapi kayak gak punya pacar, Dir?’. Aku
bingung harus menjawab apa. Mungkin ALLAH menciptakan pertemuan untuk suatu
PERPISAHAN yang akhirnya dipertemukan kembali dalam keindahan.” Isi smsku
padamu,
“maksudmu apa Humairoh? Apakah yang kau maksud bahwa hubungan kita berakhir?” balasanmu untukku,
“Iya!! Aku sudah tidak kuat untuk jalani hubungan seperti ini!! Aku memiliki seorang kekasih tapi seperti tidak mempunyai!!”, jawabku menjelaskan keadaanku,
“maksudmu apa Humairoh? Apakah yang kau maksud bahwa hubungan kita berakhir?” balasanmu untukku,
“Iya!! Aku sudah tidak kuat untuk jalani hubungan seperti ini!! Aku memiliki seorang kekasih tapi seperti tidak mempunyai!!”, jawabku menjelaskan keadaanku,
Sekarang,
aku baru tahu, Fan! Ketika aku menginginkan hubungan kita berakhir, kau sedang
dalam kondisi letih, baru saja menyelesaikan dokumentasi di sebuah acara. Dan
ini baru ku ketahui dari seseorang yang juga alumnus dari sekolah Sulteng.
Entah, bagaimana perasaanmu kala itu!! Dengan kondisi yang letih tapi harus
menerima kenyataan jika hubunganmu denganku haruslah berakhir. Wahai sosok yang
tak menyerah, layaklah aku kini menerima kepahitan ini. Duhai pemberi ilmu,
ketika aku sedang tidak tahu tentang Ad-Din kau datang dengan membawa
hadits-hadits. Pantaslah aku untuk kau campakkan.
Aku sadar,
aku pernah mengatakan, “siapa yang bilang kau tidak lebih baik dari
mantan-mantanku? Bagiku, walau engkau tidak seperti mereka namun kau lebih baik
dari mereka! Kau selalu mengingatkanku untuk shalat. Kau selalu memberitahukan
kepadaku tentang perkara-perkara yang sebelumnya belum ku ketahui dan kini aku
mengetahuinya. Rifan sayangku, buatku, kamulah kekasihku yang terbaik!!” bunyi
smsku yang ku kirim padamu dulu,
Maafkanlah
aku Rifan!! Aku telah membuat harapan serta impianmu melayang entah kemana.
Hatiku pun ikut hancur!! Saat aku mengetahui serta menyadari betapa seriusnya
engkau mencintaiku. Rifan, dengarlah… Aku disini sekarang! Di sampingmu! Takkan
lagi kau harus lelah berjalan kaki hanya untuk datang ke rumahku supaya kita
bisa bertemu.
“Nadira,
maukah kamu menjadi kekasihku? Tapi, kita lakukan dengan cara ta’rauf.” Katamu
padaku melalui telepon seluler,
“hmm… ya
udah, kalau gitu aku jawab disaat kau telah datang ke rumahku.” Balasku yang
juga melalui sms,
Memang,
seharusnya aku sudah menyadari dari semula jika ada yang spesial di dalam
dirimu. Sungguh sangat bodohnya aku, kehilanganmu awal dari keterpurukanku
karena dia. Hatiku sakit, Fan! Bila mengingat kenangan saat kita masih bersama
tapi nasi telah menjadi bubur. Karena lemahnya aku sebagai seorang perempuan,
membuat kamu dan aku harus mengalami masa keterpurukan. Dapatkah aku
memperbaiki semua yang telah terjadi? Ataukah memang ini harus tetap sama
seperti sekarang? Rifan, dengarlah… Aku membutuhkanmu seperti dahulu!!
“Yang, kamu
tahu apa yang aku rasakan saat ini?” tanyamu melalu pesan singkat,
“apa Yang?”
balasku singkat,
“Aku sayang
dan cinta padamu, Humairoh! Oh iya, aku jadi teringat dengan sebuah hadits
Riwayat Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin
Bardizbah al Ju’fi al Bukhari atau Imam Bukhari, dari kitab/bab Nikah yang
artinya, “wanita dinikahi karena 4 (empat) perkara, pertama karna
kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan yang terkahir karena agamanya.
Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung. Jadi aku
mencintaimu karena ALLAH dan insya’allah akan menikahimu karena agamamu.”
Jelasmu kepadaku,
“ah kamu
Yang, bisa aja.” Jawabku sekenanya,
Tahukah
kamu Fan? Ketika itu, aku bahagia! Setelah membaca sms darimu. Rifan,
dengarlah… Aku mencintaimu, Fan! Sama seperti dahulu.
Rifan,
masih ingatkah kamu saat aku mengatakan padamu kalau aku mencantumkan namamu
pada skripsiku? Aku memasukkan namamu di daftar penyusun agar aku semakin
semangat dan tak perlu takut ketika menghadapi sidang! Wal hasil, aku lulus
Fan! Dan kamu pun tahu akan hal itu. Lalu, masih ingatkah kamu, ketika aku
berharap kehadiranmu pada acara wisudaku? Sebab, aku ingin keberadaanmu dalam
hari-hariku tidak hanya sebatas datang ke rumah namun juga dalam acara tersebut
dan terabadiakan dalam memori otakku. Tapi kenyataan berbicara lain, sebulan
sebelum pelangsungan wisuda, hubungan kita harus berakhir!
Rifan,
tahukah kamu? Sekarang aku mengajar dibidang yang aku ambil semasa kuliah dulu
dan tahukah kamu, dimana aku mengajar? Aku mengajar di sebuah pesantren, Fan!
Padahal awalnya aku hanya ingin mengajar di TPA dekat rumahku namun aku terus
mengingat dia yang sudah menghancurkan mimpi-mimpiku! Rifan… jangan kau
bersedih seperti ini di depanku! Apakah kau tak malu atau merasa jatuh harga
dirimu, dengan menangis dilihat oleh orang lain!? Sudahlah Fan! La Tahzan!!
Haruskah aku mengingatkanmu tentang malu? Yang dahulu pernah kau kirimkan
melalui sebuah hadits kepadaku?
“Malu
merupakan sebagian dari Iman.”
“Pintu Iman ada 70 dan salah satunya adalah malu.”
“Pintu Iman ada 70 dan salah satunya adalah malu.”
Ingatkah
kamu pada hadits tersebut? Jadi, sudahlah, jangan kau bersedih lagi!! Sudah cukup
kamu menanggung pilu! Tak perlu lagi kini kau merasakannya, sebab aku sudah ada
disini, di sampingmu.
“Nak Dira,
sudah waktunya.” Seru Ibunda Rifan padaku,
“eh… Iya bu. Tapi… bolehkah?” ucapku sambil menghapus air mata yang sedari tadi mengalir,
“hmm…” jawab beliau mempersilahkan,
“terima kasih bu.” Balasku,
“eh… Iya bu. Tapi… bolehkah?” ucapku sambil menghapus air mata yang sedari tadi mengalir,
“hmm…” jawab beliau mempersilahkan,
“terima kasih bu.” Balasku,
“Rifan,
haruskan semua ini menimpa kita? Apakah memang kita tidak ditakdirkan untuk
bersama seperti impian kita? Rifan, andai aku bisa menukar raga, aku ingin
bukan kamu yang terbaring di ranjang ini melainkan aku! Rifan, jangan sedih
lagi yah! Sekarang aku akan selalu ada di sampingmu! Takkan ku pergi
meninggalkanmu lagi! Cepatlah sadar Fan! Aku menantimu!” kataku yang menyudahi
pertemuanku dengan Rifan yang sedang terbaring koma akibat menolongku saat aku
akan ditabrak oleh sebuah mobil,
“ayo bu.”
Ucapku,
Aku pun
meninggalkan ruangan Rifan sebab waktu kunjungan rumah sakit telah habis.
Diantar oleh ibunda Rifan menuju pintu ruangan untuk selanjutnya mengantarkan
aku sampai ke kamarku yang juga masih satu rumah sakit dengan Rifan. Setibanya
di kamarku, ibunda Rifan membantuku untuk berdiri dari kursi roda dan
memindahkanku ke tempat tidur agar aku bisa beristirahat. Selepas Ibunda Rifan
meninggalkan ruangan, aku mengambil sebuah kumpulan kertas yang diberikan
ibunda Rifan kepadaku. Aku baca tiap lembar, karya Rifan, tiap judul.
Air mata
ini tak mampu lagi aku bendung, saat aku membaca hasil tulisan Rifan, orang
yang dulu mencintaiku dan aku pun mencintainya namun kini ia tengah tergolek
tak berdaya. Lantaran ia telah menyelamatkanku dari kecelakaan naas kemarin.
Aku baca semua karya Rifan, hingga sampai pada sebuah tulisan yang di dalamnya
tertulis, terjemahan surah An Nuur.
“Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya),
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali
kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki tua yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat
wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nuur ayat 26,30-31)
Sekali lagi,
aku baru menyadari dan semua pun kian jelas. Bahwa apa yang dahulu aku pinta,
enggan kau menyetujuinya. Perasaanku semakin larut dalam kesedihan yang
terdalam. Mengenang gurauanmu, nasihatmu, segalanya yang kau tunjukkan selama
kita bersama. Duhai Dzat yang menciptakan langit dan bumi, ampunilah kami atas
dosa yang telah kami perbuat dahulu serta berilah Rifan kesembuhan serta
kesadaran, agar hamba bisa bercanda ria dengannya lagi. Air mata semakin deras
mengalir.
Beberapa
bulan telah berlalu, kondisiku sudah pulih pasca kecelakaan lalu, sementara
keadaan Rifan masih sama, ia belum kunjung sadar. Belakangan ini aku lebih
sering menyempatkan diri untuk bisa berada di sisinya sebab Rifan merupakan
perantara ALLAH untuk menyelamatkanku dari kecelakaan silam. Sekarang aku telah
memberanikan diri untuk tinggal lagi bersama kedua orangtuaku walau luka yang
aku alami akibat gagalnya hubunganku dengan orang yang penuh dengan omong
kosong itu! Hari itu, aku datang terlalu siang. Ketika aku berada di depan
kamar inap Rifan, aku melihat seorang perempuan berjilbab dengan cadar yang
membungkus wajahnya. Entah siapa dia, aku tak mau mengganggunya.
Disinilah
ingatanku kembali berputar, mengingat tentang ucapan Rifan kepada salah seorang
sahabatku, Dini.
“Din, gue
sebenarnya mau aja belajar mengendarai motor tapi gue punya pengalaman kelam di
masa kecil dan itu masih gue rasakan kala gue mencoba untuk belajar mengendarai
motor. Nah karena itulah gue mencoba untuk belajar mengendarai kendaraan lain
selain motor yaitu mobil. Alhamdulillah, sekarang gue udah lancar mengendarai
mobil bahkan gue juga udah memiliki SIM A. Lagipula, bila mobil dibandingkan
dengan motor, mobil lebih nyaman dan bisa lebih santai.” Terangmu kepada Dini
dulu,
“ya tapi
kalau motor kan Fan, lebih efisien dan fleksible. Gak ribet.” Balas Dini yang
membelaku kala itu,
“ya udah,
sekarang gini aja, gue cuma nyari calon istri yang pengertian, yang bisa diajak
susah dan gak neko-neko. Jika Nadira memang tetap bersikukuh dengan
keinginannya, ya udah, silahkan. Maaf ini udah menjadi keputusan gue, Din.
Sampaikan pula maaf gue buat sahabat lo, Nadira.” Jelasmu untuk terakhir kali,
Ya, kini
aku berspekulasi tentang perempuan bercadar di dalam, kalau dia merupakan sosok
yang selama ini menjadi idaman Rifan. Tamatlah sudah!! Harapanku harus pupus
untuk bisa dipinang oleh laki-laki seperti Rifan. Aku termenung… Tiba-tiba,
“Assalamu’alaikum…”
Ucap seseorang memberikan salam kepadaku,
“Wa’alaikumsalam…” jawabku membalas salam orang itu,
“apakah benar Anti ini adalah Nadira?” Tanya orang tadi,
“Iya, benar Ukhti. Ana, Nadira. Anti siapa ya?” balasku serta menanyakan siapa dia sambil menyuruhnya untuk duduk di sampingku,
“Alhamdulillah… Ana Yanifah.” Jawabnya,
“oh…” kataku singkat,
“ternyata, Rifan benar yah. Anti ini cantik.” Ujarnya menyanjungku,
“maksud Anti apa?” tanyaku kebingungan,
“dulu, Rifan pernah bercerita kepada ana tentang ukhti yang pernah ia cintai dan sayangi. Ukhti itu berparas cantik, terlebih bila ia sedang malu atau tersenyum akan tampak pipinya berubah kemerahan.” Terangnya mengisahkan obrolannya dengan Rifan,
“Rifan juga mengatakan, ia menyesal serta merindukan sosok ukhti tersebut ketika ia tahu bahwa ukhti itu akan melangsungkan pernikahan dengan ikhwan yang tentunya bukan Rifan sendiri.” Tambahnya,
“Anti tahu? Ia mencintai ukhti tersebut pada pandangan pertamanya yang terjadi sekitar 6-7 tahun silam. Bahkan sempat ana mendengar, ketika ia sedang shalat, ia menyebut Anti itu dalam setiap doa, sujud, dan shalat tahajudnya, berharap kalau ia bisa meminangnya.” Lanjutnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara,
“Wa’alaikumsalam…” jawabku membalas salam orang itu,
“apakah benar Anti ini adalah Nadira?” Tanya orang tadi,
“Iya, benar Ukhti. Ana, Nadira. Anti siapa ya?” balasku serta menanyakan siapa dia sambil menyuruhnya untuk duduk di sampingku,
“Alhamdulillah… Ana Yanifah.” Jawabnya,
“oh…” kataku singkat,
“ternyata, Rifan benar yah. Anti ini cantik.” Ujarnya menyanjungku,
“maksud Anti apa?” tanyaku kebingungan,
“dulu, Rifan pernah bercerita kepada ana tentang ukhti yang pernah ia cintai dan sayangi. Ukhti itu berparas cantik, terlebih bila ia sedang malu atau tersenyum akan tampak pipinya berubah kemerahan.” Terangnya mengisahkan obrolannya dengan Rifan,
“Rifan juga mengatakan, ia menyesal serta merindukan sosok ukhti tersebut ketika ia tahu bahwa ukhti itu akan melangsungkan pernikahan dengan ikhwan yang tentunya bukan Rifan sendiri.” Tambahnya,
“Anti tahu? Ia mencintai ukhti tersebut pada pandangan pertamanya yang terjadi sekitar 6-7 tahun silam. Bahkan sempat ana mendengar, ketika ia sedang shalat, ia menyebut Anti itu dalam setiap doa, sujud, dan shalat tahajudnya, berharap kalau ia bisa meminangnya.” Lanjutnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara,
Dalam hati,
aku menjerit sejadi-jadinya namun enggan ku tunjukkan itu di depan wanita ini,
takut membuat ia cemburu karena tahu aku menyesali semua ulahku.
“Anti,
Rifan mencintai anti dengan tulus. Walaupun Rifan tahu kesempatannya untuk
memperistri anti telah tertutup. Ia merindukan kehadirana anti dalam setiap
hari-harinya. Barangkali anti ingat dengan benda ini? Rifan memberikan benda
ini saat masih singgah di pondok pesantren ana. Ia juga berkisah perihal benda
ini, bagaimana ia memperolehnya. Sungguh, betapa beruntungnya anti bisa
dicintai oleh ikhwan seperti Rifan.” Tambahnya lagi,
“Astaghfirullah!! Benda ini merupakan barang pemberianku dulu. Ia masih menyimpannya!?” batinku merintih perih,
“oh iya, ana hampir lupa. Ini surat yang sempat Rifan titipkan ke ana sebelum ia pergi meninggalkan pondok pesantren untuk melanjutkan perantuan serta pencariannya tentang ilmu agama. Ia berpesan agar ana mengirimkannya namun ana lupa dan baru setelah berbulan-bulan berlalu dari masa itu, ana bisa berjumpa langsung dengan akhwat idaman Rifan.” Katanya sambil memberikan beberapa amplop surat kepadaku,
“Astaghfirullah!! Benda ini merupakan barang pemberianku dulu. Ia masih menyimpannya!?” batinku merintih perih,
“oh iya, ana hampir lupa. Ini surat yang sempat Rifan titipkan ke ana sebelum ia pergi meninggalkan pondok pesantren untuk melanjutkan perantuan serta pencariannya tentang ilmu agama. Ia berpesan agar ana mengirimkannya namun ana lupa dan baru setelah berbulan-bulan berlalu dari masa itu, ana bisa berjumpa langsung dengan akhwat idaman Rifan.” Katanya sambil memberikan beberapa amplop surat kepadaku,
Aku hanya
mampu menghela nafas saat aku terima surat tersebut dari Yanifah. Tak tahu apa
yang mesti aku katakan pada Yanifah, ia memandangku dengan tatapan yang aneh.
Dalam hatiku, siapakah dia sebenarnya? Kalau memang dia gadis yang selama ini
menemani Rifan dan merupakan gadis yang diimpikannya. Mengapa ia mengucapkan
semua itu kepadaku? Terlalu bodoh dia melakukannya!
“ana yakin,
Rifan tidak salah dalam memilih calon istri dan calon ibu dari anak-anaknya
kelak memang jika dilihat anti ini adalah akhwat yang sholehah, cocok dengan
Rifan.” Ujarnya memecah kecanggungan,
“maaf, maksud anti apa? Ana tidak mengerti.” Kataku yang berusaha mengakrabkan diri,
“yang mana?” Tanya Yanifah yang terlihat mengerutkan kedua alis matanya,
“maksud ana, anti ini siapa? Kenapa anti menyampaikan semua hal itu kepada ana? Bukankah anti adalah gadis yang diimpikan oleh Rifan bahkan, selama ini anti yang menemani Rifan.” Tanyaku pada Yanifah,
“Alhamdulillah, akhirnya anti bertanya hal itu. Ana bukanlah siapa-siapa Rifan, ana datang dari pondok ke sini hanya ingin menuntaskan wasiat Rifan kepada ana beberapa bulan lalu. Sebelum akhirnya ia pergi namun beberapa hari yang lalu, ana mendapatkan kabar dari kerabat dekat kami yang sempat datang ke sulteng dengan tujuan berkunjung ke rumah Rifan. Tetapi kerabat kami mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Rifan. Lantas ia kembali ke pondok dan memberitahukan berita ini ke ana. Maka dari itulah ana bergegas untuk datang ke sini.” Terangnya dengan mata berkaca-kaca seperti merasakan sesuatu.
“maaf, maksud anti apa? Ana tidak mengerti.” Kataku yang berusaha mengakrabkan diri,
“yang mana?” Tanya Yanifah yang terlihat mengerutkan kedua alis matanya,
“maksud ana, anti ini siapa? Kenapa anti menyampaikan semua hal itu kepada ana? Bukankah anti adalah gadis yang diimpikan oleh Rifan bahkan, selama ini anti yang menemani Rifan.” Tanyaku pada Yanifah,
“Alhamdulillah, akhirnya anti bertanya hal itu. Ana bukanlah siapa-siapa Rifan, ana datang dari pondok ke sini hanya ingin menuntaskan wasiat Rifan kepada ana beberapa bulan lalu. Sebelum akhirnya ia pergi namun beberapa hari yang lalu, ana mendapatkan kabar dari kerabat dekat kami yang sempat datang ke sulteng dengan tujuan berkunjung ke rumah Rifan. Tetapi kerabat kami mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Rifan. Lantas ia kembali ke pondok dan memberitahukan berita ini ke ana. Maka dari itulah ana bergegas untuk datang ke sini.” Terangnya dengan mata berkaca-kaca seperti merasakan sesuatu.
Tiba-tiba
dari dalam ruangan Rifan terdengar suara teriakan yang memanggil-manggil doket
serta suster.
“dokter!
Suster! Alat penunjuk jantungnya tidak berfungsi! Dokter! Suster! Cepat ke
sini!!” suara teriakan yang ku tahu adalah suara Ibunda Rifan,
Suster
bersama dengan dokter pun datang ke kamar inap Rifan. Aku yang menyaksikan
pemandangan tersebut merasa khawatir. Aku pegang erat-erat surat dari Rifan
yang ada di tanganku sambil berusaha masuk ke dalam ruangan 303 yang merupakan
kamar Rifan. Namun salah seorang suster mencegahku masuk dan aku hanya bisa
mengetahui keadaan di dalam melalui suara-suara ribut yang berasal dari dalam.
Perasaanku kian menjadi ketika aku mendengar suara ibunda Rifan dengan nada
menangis. Aku pandangi bunda Rifan, kami berusaha untuk saling menguatkan. Di
tengah kekalutan kami, aku teringat akan sebuah pesan yang Rifan sampaikan
kepadaku dulu.
“cukuplah
kematian sebagai pemberi nasihat.”
“ada beberapa hal yang sekiranya ALLAH berikan dan hal tersebut takkan pernah tertukar dengan yang lain, yaitu rezeki, jodoh serta maut.”
“ada beberapa hal yang sekiranya ALLAH berikan dan hal tersebut takkan pernah tertukar dengan yang lain, yaitu rezeki, jodoh serta maut.”
Dokter
keluar dari ruangan, ibunda Rifan menghampiri, aku lihat raut wajah sang doket,
mimiknya tidak bersahabat! Aku pun mulai berdo’a, berharap Rifan baik-baik
saja. Namun ALLAH lebih mencintainya. Hujan air mata terjadi seketika, aku
berusaha sekuat tenaga supaya tidak menangis. Yanifah memelukku agar aku lebih
tenang tapi kesedihan yang aku rasakan tak mampu lagi aku tahan. Kedua mataku
mulai mengaliri air pilu. Para suster mulai keluar menarik tempat tidur yang di
atasnya telah terbaring jasad tanpa nyawa. Rifan telah pergi meninggalkan
orang-orang yang mencintainya, termasuk aku. Ibundanya tak mau lepas dari anak
laki-lakinya.
Yanifah
terus berusaha menguatkanku sambil kami melangkah meninggalkan kamar yang telah
menjadi tempat perjuangan Rifan melawan masa-masa kritisnya. Kami semua pergi
dari rumah sakit dan untuk selanjutnya mengantarkan jenazah Rifan ke rumahnya
agar bisa dimandikan, dishalati dan kemudian dikebumikan. Dalam hati aku
berkata,
“Rifan,
bagaimana pun aku mencintaimu dengan caramu yang seperti itu. Kini mereka yang
mengenalmu akan melupakanmu, sebagaimana ucapanmu kepadaku dulu, ‘biarlah hanya
hari ini aku dikenal oleh orang yang aku temui dan bila waktunya nanti, aku
berharap mereka melupakanku’. Selamat jalan pujaan hatiku, semoga dosa-dosamu
diampuni dan semua amal ibadahmu diterima oleh
ALLAH AZZA WA JALLA. Aamiin.”
Initial Z

