Rabu, 11 Juni 2014

BEGINILAH CARAMU MENCINTAIKU


.........Kisah/cerpen ini fikti belaka berupa inspirasi dan khayalanku belaka.......

“Memang penyesalan berujung di setiap kisah kehidupan, begitulah yang aku rasakan sekarang. Mungkin bila dikatakan manusia bodoh, maka pantaslah aku dijuluki demikian. Betapa tidak, aku telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu mencintaiku dengan cara yang luar biasa. Tapi justru aku menolak caranya tersebut. Sebab aku yang masih memiliki ego yang besar, hingga menjadikanku meratapi segalanya yang telah berlalu. Rifan, sungguh menyesalnya aku, mengabaikanmu yang mencintaiku dengan caramu yang sangat luar biasa. Namun kini semua tiada guna lagi.
Masih ku ingat hari pertama kita bertemu, kala itu kau datang pada acara pernikahan kakakku. Dengan pakaian sederhana dibalut jaket hitam bertuliskan namamu di belakangnya, kau tampak apa adanya. Meskipun waktu itu aku terkejut dengan postur tubuhmu yang ‘big size’, tapi aku tahu sekarang. Tersimpan hal luar biasa di dalam dirimu. Jika saja waktu dapat aku putar kembali, ingin ku kembali di masa kita masih bersama, menjalin kasih dengan caramu yang indah. Terlebih setelah kawanmu, Beni, menceritakan semua yang telah kau lakukan selepas kita tak lagi menjalin hubungan, rasanya aku benar-benar berdosa kepadamu, Fan. Wahai mantan kekasihku, adakah waktu untuk kita bersama lagi seperti dahulu?
“Assalamu’alaikum, ini benar dengan Nadira alumnus SMA 1 SULTENG? yang jurusan IPA?”, bunyi pesan obrolan facebook pertamamu padaku,
“Wa’alaikumsalam, iya benar. Ini siapa yah? Kok bisa kenal dengan Dira? Emang kamu alumnus SMA Kencana juga?”, balasku yang juga melalui obrolan facebook,
“Iya, aku alumnus SMA 1 SULTENG. Lah, kan tertera namaku disana.”, jawabmu sekenanya,
“oh iya. Oh namamu Rifan toh? Emang dulu jurusan apa dan angkatan tahun berapa?” tanyaku lagi padamu yang masih penasaran,
“Iya. Aku jurusan IPS, angkatan tahun 2010/2011.”, balasmu singkat,
“oh… salam kenal yah…” ketikku pada obrolan facebook kala itu,
“iya.” Jawabmu menyudahi obrolan kita di masa silam,
Aku tak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Begitu bersalahnya aku meninggalkan orang sepertimu, Fan! Aku meninggalkanmu demi seseorang yang hanya mengumbar janji, membawaku ke awang-awang lalu tanpa aku tahu kapan aku kan dihempaskan olehnya. Tetapi baru aku ketahui bila masa yang ku takuti ialah bulan lalu, setelah kami memadu kasih selama 5 bulan. Dan ia tidak jua melakukan apa yang ia katakan, remuk hatiku Fan! Rasanya hati ini hancur berkeping-keping!! Inginku menghajar tepat di wajahnya.
Namun siapalah aku? Hanya seorang wanita yang lemah sebatas marah serta menangis saja yang mampu kuperbuat. Selebihnya tak sanggup ‘tuk ku lakukan. Wahai yang mencintaiku, masihku ingat ketika kau datang kali ketiga dengan tampangmu yang acak-acakan, wajahmu penuh peluh bercampur debu jalanan. Semestinya ku pikirkan semua yang kau lakukan untukku dulu. Lagi, hanya penyesalan kata yang layak keluar dari mulutku. Aku dengar dari sahabatmu Septian, dalam do’amu, kau tak lupa sebut namaku, dalam sujudmu, kau hantarkan harapan dalam garis hidupmu tentang aku yang kau cinta.
Duhai pemberi semangat ketika aku lelah bertarung dengan skripsiku, aku harap kau dapat mendengarkan. Di balik ragaku yang lemah ini, telah kau taburkan rasa semangat di dalamnya. Wahai pemberi ilmu disaat aku bingung, kau berikan aku pembaharuan tentang segalanya. Aku tahu, kau merasa kecewa denganku, berharap aku hilang dalam hidupmu namun ku berharap, dengarlah, dengarkanlah lirihnya jeritanku dalam kebisuan hati. Bahwa aku rela kau caci-maki karena memang aku pantas mendapatkannya.
“Aku sering ditanyai oleh kakakku, ‘kau punya pacar tapi kayak gak punya pacar, Dir?’. Aku bingung harus menjawab apa. Mungkin ALLAH menciptakan pertemuan untuk suatu PERPISAHAN yang akhirnya dipertemukan kembali dalam keindahan.” Isi smsku padamu,
“maksudmu apa Humairoh? Apakah yang kau maksud bahwa hubungan kita berakhir?” balasanmu untukku,
“Iya!! Aku sudah tidak kuat untuk jalani hubungan seperti ini!! Aku memiliki seorang kekasih tapi seperti tidak mempunyai!!”, jawabku menjelaskan keadaanku,
Sekarang, aku baru tahu, Fan! Ketika aku menginginkan hubungan kita berakhir, kau sedang dalam kondisi letih, baru saja menyelesaikan dokumentasi di sebuah acara. Dan ini baru ku ketahui dari seseorang yang juga alumnus dari sekolah Sulteng. Entah, bagaimana perasaanmu kala itu!! Dengan kondisi yang letih tapi harus menerima kenyataan jika hubunganmu denganku haruslah berakhir. Wahai sosok yang tak menyerah, layaklah aku kini menerima kepahitan ini. Duhai pemberi ilmu, ketika aku sedang tidak tahu tentang Ad-Din kau datang dengan membawa hadits-hadits. Pantaslah aku untuk kau campakkan.
Aku sadar, aku pernah mengatakan, “siapa yang bilang kau tidak lebih baik dari mantan-mantanku? Bagiku, walau engkau tidak seperti mereka namun kau lebih baik dari mereka! Kau selalu mengingatkanku untuk shalat. Kau selalu memberitahukan kepadaku tentang perkara-perkara yang sebelumnya belum ku ketahui dan kini aku mengetahuinya. Rifan sayangku, buatku, kamulah kekasihku yang terbaik!!” bunyi smsku yang ku kirim padamu dulu,
Maafkanlah aku Rifan!! Aku telah membuat harapan serta impianmu melayang entah kemana. Hatiku pun ikut hancur!! Saat aku mengetahui serta menyadari betapa seriusnya engkau mencintaiku. Rifan, dengarlah… Aku disini sekarang! Di sampingmu! Takkan lagi kau harus lelah berjalan kaki hanya untuk datang ke rumahku supaya kita bisa bertemu.
“Nadira, maukah kamu menjadi kekasihku? Tapi, kita lakukan dengan cara ta’rauf.” Katamu padaku melalui telepon seluler,
“hmm… ya udah, kalau gitu aku jawab disaat kau telah datang ke rumahku.” Balasku yang juga melalui sms,
Memang, seharusnya aku sudah menyadari dari semula jika ada yang spesial di dalam dirimu. Sungguh sangat bodohnya aku, kehilanganmu awal dari keterpurukanku karena dia. Hatiku sakit, Fan! Bila mengingat kenangan saat kita masih bersama tapi nasi telah menjadi bubur. Karena lemahnya aku sebagai seorang perempuan, membuat kamu dan aku harus mengalami masa keterpurukan. Dapatkah aku memperbaiki semua yang telah terjadi? Ataukah memang ini harus tetap sama seperti sekarang? Rifan, dengarlah… Aku membutuhkanmu seperti dahulu!!
“Yang, kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini?” tanyamu melalu pesan singkat,
“apa Yang?” balasku singkat,
“Aku sayang dan cinta padamu, Humairoh! Oh iya, aku jadi teringat dengan sebuah hadits Riwayat Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah al Ju’fi al Bukhari atau Imam Bukhari, dari kitab/bab Nikah yang artinya, “wanita dinikahi karena 4 (empat) perkara, pertama karna kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan yang terkahir karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung. Jadi aku mencintaimu karena ALLAH dan insya’allah akan menikahimu karena agamamu.” Jelasmu kepadaku,
“ah kamu Yang, bisa aja.” Jawabku sekenanya,
Tahukah kamu Fan? Ketika itu, aku bahagia! Setelah membaca sms darimu. Rifan, dengarlah… Aku mencintaimu, Fan! Sama seperti dahulu.
Rifan, masih ingatkah kamu saat aku mengatakan padamu kalau aku mencantumkan namamu pada skripsiku? Aku memasukkan namamu di daftar penyusun agar aku semakin semangat dan tak perlu takut ketika menghadapi sidang! Wal hasil, aku lulus Fan! Dan kamu pun tahu akan hal itu. Lalu, masih ingatkah kamu, ketika aku berharap kehadiranmu pada acara wisudaku? Sebab, aku ingin keberadaanmu dalam hari-hariku tidak hanya sebatas datang ke rumah namun juga dalam acara tersebut dan terabadiakan dalam memori otakku. Tapi kenyataan berbicara lain, sebulan sebelum pelangsungan wisuda, hubungan kita harus berakhir!
Rifan, tahukah kamu? Sekarang aku mengajar dibidang yang aku ambil semasa kuliah dulu dan tahukah kamu, dimana aku mengajar? Aku mengajar di sebuah pesantren, Fan! Padahal awalnya aku hanya ingin mengajar di TPA dekat rumahku namun aku terus mengingat dia yang sudah menghancurkan mimpi-mimpiku! Rifan… jangan kau bersedih seperti ini di depanku! Apakah kau tak malu atau merasa jatuh harga dirimu, dengan menangis dilihat oleh orang lain!? Sudahlah Fan! La Tahzan!! Haruskah aku mengingatkanmu tentang malu? Yang dahulu pernah kau kirimkan melalui sebuah hadits kepadaku?
“Malu merupakan sebagian dari Iman.”
“Pintu Iman ada 70 dan salah satunya adalah malu.”
Ingatkah kamu pada hadits tersebut? Jadi, sudahlah, jangan kau bersedih lagi!! Sudah cukup kamu menanggung pilu! Tak perlu lagi kini kau merasakannya, sebab aku sudah ada disini, di sampingmu.
“Nak Dira, sudah waktunya.” Seru Ibunda Rifan padaku,
“eh… Iya bu. Tapi… bolehkah?” ucapku sambil menghapus air mata yang sedari tadi mengalir,
“hmm…” jawab beliau mempersilahkan,
“terima kasih bu.” Balasku,
“Rifan, haruskan semua ini menimpa kita? Apakah memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama seperti impian kita? Rifan, andai aku bisa menukar raga, aku ingin bukan kamu yang terbaring di ranjang ini melainkan aku! Rifan, jangan sedih lagi yah! Sekarang aku akan selalu ada di sampingmu! Takkan ku pergi meninggalkanmu lagi! Cepatlah sadar Fan! Aku menantimu!” kataku yang menyudahi pertemuanku dengan Rifan yang sedang terbaring koma akibat menolongku saat aku akan ditabrak oleh sebuah mobil,
“ayo bu.” Ucapku,
Aku pun meninggalkan ruangan Rifan sebab waktu kunjungan rumah sakit telah habis. Diantar oleh ibunda Rifan menuju pintu ruangan untuk selanjutnya mengantarkan aku sampai ke kamarku yang juga masih satu rumah sakit dengan Rifan. Setibanya di kamarku, ibunda Rifan membantuku untuk berdiri dari kursi roda dan memindahkanku ke tempat tidur agar aku bisa beristirahat. Selepas Ibunda Rifan meninggalkan ruangan, aku mengambil sebuah kumpulan kertas yang diberikan ibunda Rifan kepadaku. Aku baca tiap lembar, karya Rifan, tiap judul.
Air mata ini tak mampu lagi aku bendung, saat aku membaca hasil tulisan Rifan, orang yang dulu mencintaiku dan aku pun mencintainya namun kini ia tengah tergolek tak berdaya. Lantaran ia telah menyelamatkanku dari kecelakaan naas kemarin. Aku baca semua karya Rifan, hingga sampai pada sebuah tulisan yang di dalamnya tertulis, terjemahan surah An Nuur.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki tua yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nuur ayat 26,30-31)
Sekali lagi, aku baru menyadari dan semua pun kian jelas. Bahwa apa yang dahulu aku pinta, enggan kau menyetujuinya. Perasaanku semakin larut dalam kesedihan yang terdalam. Mengenang gurauanmu, nasihatmu, segalanya yang kau tunjukkan selama kita bersama. Duhai Dzat yang menciptakan langit dan bumi, ampunilah kami atas dosa yang telah kami perbuat dahulu serta berilah Rifan kesembuhan serta kesadaran, agar hamba bisa bercanda ria dengannya lagi. Air mata semakin deras mengalir.
Beberapa bulan telah berlalu, kondisiku sudah pulih pasca kecelakaan lalu, sementara keadaan Rifan masih sama, ia belum kunjung sadar. Belakangan ini aku lebih sering menyempatkan diri untuk bisa berada di sisinya sebab Rifan merupakan perantara ALLAH untuk menyelamatkanku dari kecelakaan silam. Sekarang aku telah memberanikan diri untuk tinggal lagi bersama kedua orangtuaku walau luka yang aku alami akibat gagalnya hubunganku dengan orang yang penuh dengan omong kosong itu! Hari itu, aku datang terlalu siang. Ketika aku berada di depan kamar inap Rifan, aku melihat seorang perempuan berjilbab dengan cadar yang membungkus wajahnya. Entah siapa dia, aku tak mau mengganggunya.
Disinilah ingatanku kembali berputar, mengingat tentang ucapan Rifan kepada salah seorang sahabatku, Dini.
“Din, gue sebenarnya mau aja belajar mengendarai motor tapi gue punya pengalaman kelam di masa kecil dan itu masih gue rasakan kala gue mencoba untuk belajar mengendarai motor. Nah karena itulah gue mencoba untuk belajar mengendarai kendaraan lain selain motor yaitu mobil. Alhamdulillah, sekarang gue udah lancar mengendarai mobil bahkan gue juga udah memiliki SIM A. Lagipula, bila mobil dibandingkan dengan motor, mobil lebih nyaman dan bisa lebih santai.” Terangmu kepada Dini dulu,
“ya tapi kalau motor kan Fan, lebih efisien dan fleksible. Gak ribet.” Balas Dini yang membelaku kala itu,
“ya udah, sekarang gini aja, gue cuma nyari calon istri yang pengertian, yang bisa diajak susah dan gak neko-neko. Jika Nadira memang tetap bersikukuh dengan keinginannya, ya udah, silahkan. Maaf ini udah menjadi keputusan gue, Din. Sampaikan pula maaf gue buat sahabat lo, Nadira.” Jelasmu untuk terakhir kali,
Ya, kini aku berspekulasi tentang perempuan bercadar di dalam, kalau dia merupakan sosok yang selama ini menjadi idaman Rifan. Tamatlah sudah!! Harapanku harus pupus untuk bisa dipinang oleh laki-laki seperti Rifan. Aku termenung… Tiba-tiba,
“Assalamu’alaikum…” Ucap seseorang memberikan salam kepadaku,
“Wa’alaikumsalam…” jawabku membalas salam orang itu,
“apakah benar Anti ini adalah Nadira?” Tanya orang tadi,
“Iya, benar Ukhti. Ana, Nadira. Anti siapa ya?” balasku serta menanyakan siapa dia sambil menyuruhnya untuk duduk di sampingku,
“Alhamdulillah… Ana Yanifah.” Jawabnya,
“oh…” kataku singkat,
“ternyata, Rifan benar yah. Anti ini cantik.” Ujarnya menyanjungku,
“maksud Anti apa?” tanyaku kebingungan,
“dulu, Rifan pernah bercerita kepada ana tentang ukhti yang pernah ia cintai dan sayangi. Ukhti itu berparas cantik, terlebih bila ia sedang malu atau tersenyum akan tampak pipinya berubah kemerahan.” Terangnya mengisahkan obrolannya dengan Rifan,
“Rifan juga mengatakan, ia menyesal serta merindukan sosok ukhti tersebut ketika ia tahu bahwa ukhti itu akan melangsungkan pernikahan dengan ikhwan yang tentunya bukan Rifan sendiri.” Tambahnya,
“Anti tahu? Ia mencintai ukhti tersebut pada pandangan pertamanya yang terjadi sekitar 6-7 tahun silam. Bahkan sempat ana mendengar, ketika ia sedang shalat, ia menyebut Anti itu dalam setiap doa, sujud, dan shalat tahajudnya, berharap kalau ia bisa meminangnya.” Lanjutnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara,
Dalam hati, aku menjerit sejadi-jadinya namun enggan ku tunjukkan itu di depan wanita ini, takut membuat ia cemburu karena tahu aku menyesali semua ulahku.
“Anti, Rifan mencintai anti dengan tulus. Walaupun Rifan tahu kesempatannya untuk memperistri anti telah tertutup. Ia merindukan kehadirana anti dalam setiap hari-harinya. Barangkali anti ingat dengan benda ini? Rifan memberikan benda ini saat masih singgah di pondok pesantren ana. Ia juga berkisah perihal benda ini, bagaimana ia memperolehnya. Sungguh, betapa beruntungnya anti bisa dicintai oleh ikhwan seperti Rifan.” Tambahnya lagi,
“Astaghfirullah!! Benda ini merupakan barang pemberianku dulu. Ia masih menyimpannya!?” batinku merintih perih,
“oh iya, ana hampir lupa. Ini surat yang sempat Rifan titipkan ke ana sebelum ia pergi meninggalkan pondok pesantren untuk melanjutkan perantuan serta pencariannya tentang ilmu agama. Ia berpesan agar ana mengirimkannya namun ana lupa dan baru setelah berbulan-bulan berlalu dari masa itu, ana bisa berjumpa langsung dengan akhwat idaman Rifan.” Katanya sambil memberikan beberapa amplop surat kepadaku,
Aku hanya mampu menghela nafas saat aku terima surat tersebut dari Yanifah. Tak tahu apa yang mesti aku katakan pada Yanifah, ia memandangku dengan tatapan yang aneh. Dalam hatiku, siapakah dia sebenarnya? Kalau memang dia gadis yang selama ini menemani Rifan dan merupakan gadis yang diimpikannya. Mengapa ia mengucapkan semua itu kepadaku? Terlalu bodoh dia melakukannya!
“ana yakin, Rifan tidak salah dalam memilih calon istri dan calon ibu dari anak-anaknya kelak memang jika dilihat anti ini adalah akhwat yang sholehah, cocok dengan Rifan.” Ujarnya memecah kecanggungan,
“maaf, maksud anti apa? Ana tidak mengerti.” Kataku yang berusaha mengakrabkan diri,
“yang mana?” Tanya Yanifah yang terlihat mengerutkan kedua alis matanya,
“maksud ana, anti ini siapa? Kenapa anti menyampaikan semua hal itu kepada ana? Bukankah anti adalah gadis yang diimpikan oleh Rifan bahkan, selama ini anti yang menemani Rifan.” Tanyaku pada Yanifah,
“Alhamdulillah, akhirnya anti bertanya hal itu. Ana bukanlah siapa-siapa Rifan, ana datang dari pondok ke sini hanya ingin menuntaskan wasiat Rifan kepada ana beberapa bulan lalu. Sebelum akhirnya ia pergi namun beberapa hari yang lalu, ana mendapatkan kabar dari kerabat dekat kami yang sempat datang ke sulteng dengan tujuan berkunjung ke rumah Rifan. Tetapi kerabat kami mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Rifan. Lantas ia kembali ke pondok dan memberitahukan berita ini ke ana. Maka dari itulah ana bergegas untuk datang ke sini.” Terangnya dengan mata berkaca-kaca seperti merasakan sesuatu.
Tiba-tiba dari dalam ruangan Rifan terdengar suara teriakan yang memanggil-manggil doket serta suster.
“dokter! Suster! Alat penunjuk jantungnya tidak berfungsi! Dokter! Suster! Cepat ke sini!!” suara teriakan yang ku tahu adalah suara Ibunda Rifan,
Suster bersama dengan dokter pun datang ke kamar inap Rifan. Aku yang menyaksikan pemandangan tersebut merasa khawatir. Aku pegang erat-erat surat dari Rifan yang ada di tanganku sambil berusaha masuk ke dalam ruangan 303 yang merupakan kamar Rifan. Namun salah seorang suster mencegahku masuk dan aku hanya bisa mengetahui keadaan di dalam melalui suara-suara ribut yang berasal dari dalam. Perasaanku kian menjadi ketika aku mendengar suara ibunda Rifan dengan nada menangis. Aku pandangi bunda Rifan, kami berusaha untuk saling menguatkan. Di tengah kekalutan kami, aku teringat akan sebuah pesan yang Rifan sampaikan kepadaku dulu.
“cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.”
“ada beberapa hal yang sekiranya ALLAH berikan dan hal tersebut takkan pernah tertukar dengan yang lain, yaitu rezeki, jodoh serta maut.”
Dokter keluar dari ruangan, ibunda Rifan menghampiri, aku lihat raut wajah sang doket, mimiknya tidak bersahabat! Aku pun mulai berdo’a, berharap Rifan baik-baik saja. Namun ALLAH lebih mencintainya. Hujan air mata terjadi seketika, aku berusaha sekuat tenaga supaya tidak menangis. Yanifah memelukku agar aku lebih tenang tapi kesedihan yang aku rasakan tak mampu lagi aku tahan. Kedua mataku mulai mengaliri air pilu. Para suster mulai keluar menarik tempat tidur yang di atasnya telah terbaring jasad tanpa nyawa. Rifan telah pergi meninggalkan orang-orang yang mencintainya, termasuk aku. Ibundanya tak mau lepas dari anak laki-lakinya.
Yanifah terus berusaha menguatkanku sambil kami melangkah meninggalkan kamar yang telah menjadi tempat perjuangan Rifan melawan masa-masa kritisnya. Kami semua pergi dari rumah sakit dan untuk selanjutnya mengantarkan jenazah Rifan ke rumahnya agar bisa dimandikan, dishalati dan kemudian dikebumikan. Dalam hati aku berkata,
“Rifan, bagaimana pun aku mencintaimu dengan caramu yang seperti itu. Kini mereka yang mengenalmu akan melupakanmu, sebagaimana ucapanmu kepadaku dulu, ‘biarlah hanya hari ini aku dikenal oleh orang yang aku temui dan bila waktunya nanti, aku berharap mereka melupakanku’. Selamat jalan pujaan hatiku, semoga dosa-dosamu diampuni dan semua amal ibadahmu diterima oleh ALLAH AZZA WA JALLA. Aamiin.” 
Initial Z


Minggu, 08 Juni 2014

Wanita si penunggu embun

"Cerita pendek berdasarkan Pengalamanku"

Malam itu, cuaca di luar begitu dingin. Sedangkan pikiranku masih saja berotasi tentang seseorang di pagi hari, berotasi dan semakin berotasi. Sampai akhirnya denting jam pun berbunyi. Sudah pukul 12 malam. Aku mencoba menghela napas panjang, dan mengatur setiap irama yang keluar. Kusejajarkan kedua kaki pada tempat tidurku. Kucoba untuk memejamkan kedua mata, namun bayangan itu pun seperti mengikuti dalam pejamku.
“Ah, sudahlah.. mengapa aku memikirkan perempuan itu?”.
Sepasang merpati hinggap di tangkai pohon. Angin semilir yang menusuk setiap nadi dan juga kulit halusku. Dingin dan juga ramah. Semburat cahaya matahari yang mulai menampakkan kebesarannya di hadapanku, tepat saat aku membuka jendela kamarku. Kulihat pohon itu, pohon yang selalu aku pandangi setiap kedua mataku terbuka di pagi hari. Pohon yang selalu menyita pikiranku saat malam tiba. Pohon yang sarat akan rasa penasaran yang tak kunjung sirna.
Ini tentang menunggu. Menunggu sesuatu yang tak seharusnya ditunggu namun kehadirannya selalu menyita setiap gerak – gerikku. Bukan tentang pohon itu, Bukan. Ini tentang seseorang yang selalu hadir di setiap pagi, di bawah pohon depan rumahku itu. Seseorang yang sampai saat ini belum kuketahui nama dan juga asalnya. Seseorang bertubuh tegap yang selalu membawa buku harian di tangan kirinya, berambut lurus dan berwarna hitam pekat, tingginya mungkin sekitar 168 cm.
Seorang wanita penunggu embun, aku menyebutnya. Aku rindu perempuan itu. Aku rindu akan kehadirannya. Rindu akan setiap diamnya, rindu akan setiap gerak-geriknya. Perempuan yang selalu membuat aku terpaku setiap kali menatap pohon itu. Perempuan yang menghabiskan waktunya untuk menunggu. Mendedikasikan tiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun untuk menunggu sesuatu yang katanya akan kembali.
Kembali ke pangkuannya lagi.
Setiap pagi yang selalu dilakukannya adalah duduk di bawah pohon itu, dengan menarikan sebuah pensil di atas buku hariannya, entah apa yang dia tulis tapi sepertinya dia sangat menikmatinya. Diam-diam aku selalu memperhatikannya dari bilik jendelaku. Memperhatikan sekaligus penasaran dengan apa yang dia tulis dalam buku hariannya itu. Buku harian berwarna coklat lengkap dengan katup kecil di tengahnya. Sesaat dia berhenti menulis hanya untuk menengadah ke atas, seperti menyaksikan segerombolan embun yang bersemayam setiap pagi di pada helai daun. Aku tak tahu ada rahasia apa di balik embun itu, tapi sepertinya ada cerita di balik embun pagi itu. Tapi entahlah.
Saat itu di suatu pagi, kucoba melangkahkan kaki keluar rumah meski suasana di luar masih sangat dingin sekali. Kuhampiri seorang perempuan yang sangat setia menemani pagi juga embun yang berjatuhan setiap harinya. Sekilas sebelum keluar rumah kuperhatikan dia masih saja sibuk dengan buku harian serta pensilnya mungilnya itu.
“Dingin ya…” Sapa perempuan itu kepadaku.
“Eh… iya… banget…” Sapaku dengan sikap kikuk serta kedua tanganku yang masih saja sibuk menggesekkan telapak tanganku sendiri agar dapat melawan rasa dingin di pagi itu.”Emmm.. boleh aku duduk disini?”
“Oh.. iya.. Silahkan..” Perempuan itu menjawab namun tangannya masih saja sibuk dengan buku coklatnya itu.
Mataku berhenti menatap sesuatu di buku coklat itu. “Itu gambar siapa?” Tanyaku dengan penuh penasaran.
Dia memandang wajahku kemudian tersenyum simpul. “Oh… Ini. Bukan siapa-siapa kok..” Jawabnya.
Kemudian perempuan itu kembali menyapukan guratan pensilnya di atas selembar kertas putih yang telah terisi sketsa wajah seorang Lelaki setengah jadi itu. Dari samping, aku melihat bibir tipisnya menyunggingkan senyum. Senyumnya itu, seakan menawarkan berjuta rahasia yang mengundang untuk diungkap kebenarannya. Aku pun terpaku sejenak. Mata perempuan ini begitu tajam, setajam mata elang yang siap mencengkram mangsanya. Kulitnya putih dan halus. Seakan gambar sketsa yang ia buat menjadi sangat kontras dengan warna tubuhnya itu.
Wanita si penunggu embun. Dia membereskan alat tulisnya kemudian melangkah pergi meninggalkan aku yang masih duduk terpaku melihatnya. Aku tidak bisa memanggil dia. Seakan-akan suaraku seketika menghilang dan hanya bisa menatap punggung rampingnya menjauh dari pelupuk mataku.
Sial!! Aku belum sempat menanyakan namanya.
Aku menunggu wanita itu.wanita yang gemar menulis puisi ditemani oleh embun pagi yang memenuhi daun-daun dan rerumputan.
Sebelum ini, tidak ada kata menunggu dalam kamus hidupku. Sebab bagiku menunggu hanyalah perbuatan yang sia-sia dan cukup melelahkan. Menunggu merupakan tindakan pasif dengan sebuah diam dan keterasingan sendiri dalam dunia yang tercipta di khayalan masing-masing.
Aku lebih suka mengeja kata mengejar. Sebab mengejar merupakan tindakan aktif untuk sesuatu yang kita harapkan. Mengejar dapat membuat kita mengerti keadaan sekitar tanpa harus berdiam diri menanti sebuah harapan seperti kata menunggu. Mengejar membuatku dapat mengejar jarak juga memangkas waktu. Membuat aku mengerti kapan harus memulai dan kapan harus berhenti.
“Hai.” wanita berkacamata dengan sebuah buku harian coklat di tangannya. “Kita bertemu lagi.”
Aku memalingkan wajahku, memandang matanya. “Emm, Iya…”
“Kau, sering kesini?”
“Iya, kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari sini.”
“Oh, tinggal di komplek ini juga?”
“Iya, Kamu?”
wanitai itu menganggukkan kepalanya. “Emmm.. boleh aku duduk disini?”
Aku tersenyum. “Iya, Silahkan.”
wanita itu kemudian membuka buku harian berwarna putih itu. Mimik wajahnya kelihatan sangat tegas bertumpu pada lehernya yang putih bersusun. Bibirnya tipis dan senyumnya membentuk sudut yang tajam di kedua pipinya yang tirus. Hidungnya mancung mirip dengan orang bule yang ada di film-film. Ia membungkus tubuhnya dengan kaus putih dan bagian atas kakinya dengan celana kain panjang berwarna hitam. wanita yang cantik, gumamku...
“Apa yang kamu tulis?” Ucapku dengan penuh keheranan.
Wanita itu memalingkan wajahnya kepadaku. “Menurutmu?”
“Puisi?” Aku menaikkan alis.
Ia kembali menarikan penanya ke dalam buku hariannya itu. Entah, seperti ada degup aneh dalam jantungku semenjak wanita itu hadir. Aku seperti tenggelam dalam dunia antah berantah yang tak kenal waktu.
Setelah pertemuan pertama itu, Aku menjadi sering bertemu dengannya lagi. Tepat di bawah pohon itu. Pohon yang mempunyai sejuta kenangan baginya. Pohon yang telah memberikan arti hidup katanya. Entahlah.
Kali ini, aku sudah mengetahui namanya. Alisya itu namanya. Ia mulai bercerita tentang mengapa dia selalu berada di bawah pohon itu ketika pagi hari dan menggambar sebuah sosok lelaki yang dia sebut sebagai kekasihnya itu. Dia mengambar sosok lelaki itu berulang kali di buku harian coklat kesayangannya itu. Dia yakin bahwa kekasihnya itu akan datang lagi dan menjemputnya. Ia tidak tahu kapan. Tapi dia berkata kepadaku seakan dia tahu bahwa waktu itu akan datang. Waktu ketika kekasihnya datang kembali.
Aku mencoba menerima semua cerita yang dia sampaikan, serta keyakinan yang diucapkannya berulang-ulang. Entah sudah berapa kali dia mengucapkannya. Aku Lupa. Tapi, perasaanku mengatakan ada yang tidak beres dengan kisah dari wanita ini. Aku belum tahu pasti, namun perasaanku seakan terus menggema tiada henti.
“Jadi, kamu akan tetap menunggunya di sini?” Tanyaku.
“Iya, Aku akan tetap menunggunya meski raga ini nantinya akan lelah sebab keyakinan ini akan mengalahkan segala kelelahan apapun.” Ucap dia dengan sangat yakin. Namun sepertinya dalam keyakinannya aku melihat sebuah kekosongan pada kedua matanya saat dia mengucapkan kata itu.
Aku melanjutkan pertanyaanku. “Kamu, benar-benar yakin dia akan kembali? Setelah sekian lama tidak ada kabar lagi?”
Tangan Alisya berhenti. Mengambang di udara. Pensil yang digenggamnya hanya berjarak 5 cm dari buku harian kesayangannya itu. Matanya kosong menatap kertas yang sudah berisi gambar dari lelaki itu. Aku masih menunggu jawabannya. Ia masih terdiam. Bibirnya terbuka, namun tidak ada sepatah kata yang dia ucapkan. Tangannya yang halus gemetar. Sangat jelas terlihat. Dan Aku mulai khawatir.
“Aku tahu dia pasti datang!!” Akhirnya perempuan itu mulai berbicara lagi. “Aku tahu, Arya pasti kembali, dia tidak pernah ingkar janji!!”
“Tapi, bagaimana kamu bisa tahu kalau-”
“Arya Pasti Datang!!!” Alisya menekankan pensilnya ke buku hariannya dengan sangat keras hingga ujung pensilnya patah. “Dia. Pasti. Datang.”
Kemudian, Alisya menutup buku hariannya dan bergegas meninggalkanku. Lagi-lagi, sebuah pertemuan yang mengambang. Terasa jelas ada sebuah kegusaran pada nada bicara Alisya ketika tadi aku mempertanyakan keyakinannya kembali. Aku tidak tahu pastinya apa yang terjadi di antara ia dan kekasihnya. Tetapi aku tahu, hal itu sangat mengganggu pikiran Alisya.
Tubuhku perlahan bangkit mencoba meraih handphoneku yang terletak di atas meja, kemudian kulihat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Kemudian aku memalingkan wajahku ke depan jendela, mencoba menangkap fenomena di pagi hari. Ah, tidak. Perempuan itu, kemana dia? Mengapa dia belum nampak pagi ini?.
Tidak jauh dari sebelah rumahku ada sebuah keramaian. Tepat beberapa blok dari rumahku. Kulihat dari jendela orang – orang sedang mengerumuni sesuatu yang aku belum tahu apa itu. Mereka membentuk sebuah lingkaran dan sedang menyaksikan sesuatu di poros tengahnya. Dengan rasa penasaran, aku segera menuruni anak tangga menuju pintu depan rumahku. Segera kupercepat langkahku menuju kerumunan itu.
Napasku tertahan, udara seakan berhenti tepat di hadapanku. Sekarang di depanku sedang tergeletak sebuah mayat. Mayat seorang wanita yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Mayat yang membuat degup jantung ini bekerja menjadi lebih cepat. Dia. Alisya. Wanita si penunggu embun itu, entah kenapa hanya tertampak darah yang mengalir di wajah lembutnya,, ternyata dia tertabrak.. dan tak ada satu pun masyarakat yang melihatnya...
Aku rindu wanita itu, seorang wanitapenunggu embun. Seseorang yang rela menunggu kekasihnya yang ternyata baru kuketahui bahwa kekasihnya itu telah meninggal dunia 5 bulan yang lalu. Seseorang yang yakin akan harapan tentang sebuah janji suci dari ikatan batin mereka.
Tetapi, kali ini ia tidak akan pernah datang.
Alisya tidak akan pernah datang lagi. Dia sudah tenang di sana. Di Surga Sang Maha Pencipta. Ternyata dia kembali hanya untuk menjemput kematiannya saja, kemarin.
Kulanjutkan kembali pekerjaanku yang belum selesai. Menggambar sesosok wanita. Wanita penunggu embun. Di bawah rindang pohon dengan embun pagi yang lembut. Pohon yang sarat akan kenangan tak terduga. Tamaat..
By
initialRZ